Alkisah ada 8 orang bersaudara yang kini sedang melakukan proses pembagian harta warisan dari kedua orang tua mereka. Lumayan besar jumlahnya, cukuplah untuk membeli sebuah rumah sederhana. Pembagian uang dengan jumlah besar itu adalah hasil penjualan orang tua mereka. Lama sebelum ini tidak satu pun dari mereka kecuali anak kedua yang mau merawat rumah warisan orang tua mereka itu, misalnya dengan berusaha menyewakan rumah itu kepada orang lain agar rumah itu tetap terjaga dan biaya operasional rumah tersebut dapat tertutupi.
Belakangan tercetus ide dari beberapa orang bersaudara tersebut untuk menjual rumah itu dan uangnya dibagi rata. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan mengingat tak satu pun dari mereka dulu perduli terfhadap rumah tersebut, ada apa ini ? tentu saja beberapa orang dari mereka kekurangan uang (walaupun gaya hidupnya seperti orang kaya).
Mereka pun akhirnya berlomba mencari pembeli dari segala penjuru kota, namun hasilnya NOL BESAR. Akhirnya anak kedua yang hanya mengikuti apa keinginan dari saudara - saudaranya itu pun turun tangan, ia mencari pembeli lewat beberapa teman seperjuanngannya. Akhirnya ia pun menemukan seseorang yang bersedia membeli rumah itu dengan harga kesepakatan. Pembeli ini sanggup membeli namun dengan sistem pembayaran cicilan, dan harus diakui pembeli ini adalah seseorang yang berpengaruh dan seorang yang mumpuni dalam perekonomiannya. Kemudian mereka ricuh, ada yang protes mengapa pembayarannya tidak tunai, dan segala macam bentuk protes yang lain. Akhirnya si anak kedua melontarkan sebuah pertanyaan sederhana kepada saudara - saudaranya, "Mana pembeli yang kalian rekomendasikan? " seketika mereka terdiam membisu. Akhirnya mereka pun tunduk kepada saudaranya yang nomor dua itu.
Hari demi hari berlalu pembayaran cicilan rumah itu sudah mendekati batas akhir, uang yang terkumpul pun cukup besar. Anehnya adalah para saudara yang lain tiba - tiba menjadi baik hati kepada saudara yang nomor dua, karena apa ? tentu saja agar mudah mendapat bagian warisan. Sampai di hari ini, ketika mereka sudah mendapat sedikit bagian dari uang yang terkumpul tersebut, apa yang terjadi ? pada hari yang fitri ini, hari kemenangan, tidak satu pun dari mereka mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf kepada abang mereka tersebut, inilah ketika uang dan harta menjadi Tuhan bagi sebagian orang, gaya hidup boleh saja bergengsi tapi HATINYA BELUM TENTU SUPER ! !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar