Kamis, 15 November 2012

<a href="http://business.ftc.gov" _cke_saved_href="http://business.ftc.gov"><img src="http://business.ftc.gov/sites/default/files/images/share/ftc-bcp-full-banner.gif" _cke_saved_src="http://business.ftc.gov/sites/default/files/images/share/ftc-bcp-full-banner.gif" alt="business.ftc.gov | Your Link to the Law" /></a>

Jumat, 09 November 2012

DERAI HUJAN

Hujan kali ini terasa indah . . .

Suaranya . . 

Hawanya . . .

Diiringi dengan lantunan Ruqyah yang sejukkan kalbu

Aku berteduh di bawah kamarku yang tidak juga sendu

Hanya sedikit temaram

Sembari memandangi foto cintaku

Dan meredam rindu untuk nanti malam


                                                                               Pontianak, 10 November 2012
                                                                                                       


                                                                                       Dicky Armando,SE

Selasa, 21 Agustus 2012

KERJA KERAS, KERJA CERDAS, KERJA IKHLAS

Dalam hidup ini kita pasti bekerja, apakah itu bekerja demi kantong pribadi atapun sosial, apa orientasi dari bekerja itu sendiri?apakah hanya untuk status sosial semata atau demi mencari nafkah untuk keluarga. Bekerja pasti ada halang rintang, tapi kita harus sikapi dengan bijak, jangan kita jadikan itu sebagai beban, tapi kita jadikan sebagai tantangan.
Banyak kita temukan referensi tentang bekerja, biasa orang bilang kerja itu harus enjoy, dinikmati, tapi kenyataannya tidak demikian apabila kita sudah dihadapkan hambatan atau rintangan tersebut, trus bagaimana kita menyikapi itu semua. Balik lagi ke logika, marah bukan solusi untuk memecahkan masalah pekerjaan, ngomel2 di status jejaring sosial juga bukan solusi, malah itu membuka kelemahan kita sendiri bahwa kita tidak mampu bekerja dengan tekanan sedemikian rupa.
Kerja keras itu penting bro!!jangan kerja tanggung2, jabatan oke, gaji oke, tapi prosesnya gimana?ada pepatah yang mengatakan "ALLAH lebih memandang proses daripada hasil", mengapa?karena hasil yang benar dapat dikerjakan dengan proses yang tidak baik, contoh; seorang ayah mencuri dan menjual hasil curiannya tersebut dan hasilnya digunakan untuk memenuhi nafkah keluarga. Tentu saja orang ini telah memenuhi kewajibannya sebagai kepala keluarga, namun proses yang dilakukannya tidak dapat dibenarkan.
Kemudian hal2 apa saja yang membuat pekerjaan yang kita lakoni menjadi berkah, ada 3 hal :
Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas.
Dengan 3 hal ini diharapkan seorang pekerja mampu bekerja dengan segenap totalitas kemampuan yang dimiliki. menggali segala ide baik yang tertanam pada diri sendiri maupun orang lain. Apapun hasilnya, hanya ALLAH yang menentukan karena kita wajib berusaha dan berdoa. InsyaAllah 3 hal ini akan menunutn kita menjadi pribadi yang BERHATI SUPER.

Minggu, 19 Agustus 2012

DALAM RINDU

Gelap hari tambah pengap

Menuai gelisah yang tanpa harap

Adakah hati untuk ku dekap ?


Ketika mulai lemas terkulai

Kamu datang dan ulurkan tangan

Luka itu kamu bersihkan dan obati

Layaknya bermimpi aku tertegun


Tapi kamu nyata

Dan kamu ada

Di sini . . di sampingku

Terus memahamiku dengan segala kurang ku


Tuhan . .ini lah dia

Jawabanmu atas doa ku


                                                         Puisi Oleh : Dicky Armando,SE
                                                         Untuk        : Ria Ulyani Boru GukGuk,SE

                                                                                      

REBUTAN WARISAN (SEPERTI SINETRON MURAHAN)

Alkisah ada 8 orang bersaudara yang kini sedang melakukan proses pembagian harta warisan dari kedua orang tua mereka. Lumayan besar jumlahnya, cukuplah untuk membeli sebuah rumah sederhana. Pembagian uang dengan jumlah besar itu adalah hasil penjualan orang tua mereka. Lama sebelum ini tidak satu pun dari mereka kecuali anak kedua yang mau merawat rumah warisan orang tua mereka itu, misalnya dengan berusaha menyewakan rumah itu kepada orang lain agar rumah itu tetap terjaga dan biaya operasional rumah tersebut dapat tertutupi.
Belakangan tercetus ide dari beberapa orang bersaudara tersebut untuk menjual rumah itu dan uangnya dibagi rata. Tentu saja hal ini cukup mengejutkan mengingat tak satu pun dari mereka dulu perduli terfhadap rumah tersebut, ada apa ini ? tentu saja beberapa orang dari mereka kekurangan uang (walaupun gaya hidupnya seperti orang kaya).
Mereka pun akhirnya berlomba mencari pembeli dari segala penjuru kota, namun hasilnya NOL BESAR. Akhirnya anak kedua yang hanya mengikuti apa keinginan dari saudara - saudaranya itu pun turun tangan, ia mencari pembeli lewat beberapa teman seperjuanngannya. Akhirnya ia pun menemukan seseorang yang bersedia membeli rumah itu dengan harga kesepakatan. Pembeli ini sanggup membeli namun dengan sistem pembayaran cicilan, dan harus diakui pembeli ini adalah seseorang yang berpengaruh dan seorang yang mumpuni dalam perekonomiannya. Kemudian mereka ricuh, ada yang protes mengapa pembayarannya tidak tunai, dan segala macam bentuk protes yang lain. Akhirnya si anak kedua melontarkan sebuah pertanyaan sederhana kepada saudara - saudaranya, "Mana pembeli yang kalian rekomendasikan? " seketika mereka terdiam membisu. Akhirnya mereka pun tunduk kepada saudaranya yang nomor dua itu.
Hari demi hari berlalu pembayaran cicilan rumah itu sudah mendekati batas akhir, uang yang terkumpul pun cukup besar. Anehnya adalah para saudara yang lain tiba - tiba menjadi baik hati kepada saudara yang nomor dua, karena apa ? tentu saja agar mudah mendapat bagian warisan. Sampai di hari ini, ketika mereka sudah mendapat sedikit bagian dari uang yang terkumpul tersebut, apa yang terjadi ? pada hari yang fitri ini, hari kemenangan, tidak satu pun dari mereka mengucapkan selamat hari raya dan memohon maaf kepada abang mereka tersebut, inilah ketika uang dan harta menjadi Tuhan bagi sebagian orang, gaya hidup boleh saja bergengsi tapi HATINYA BELUM TENTU SUPER ! !

Sabtu, 18 Agustus 2012

NILAI LEBARAN YANG TERLUPAKAN

Lebaran adalah suatu masa tertentu setelah berpuasa 30 hari lamanya di Bulan Suci Ramadhan. Hal ini identik dengan saling memaafkan kepada semua kerabat dan seluruh umat, ada pesan cinta dan damai pada momen ini. Sayangnya dewasa ini, moment penting seperti ini sifatnya menjadi ajang unjuk kemewahan dan ajang unjuk gengsi, fenomena ini dapat dibuktikan betapa sebelum berlebaran nyaris semua orang menyempatkan diri untuk berbelanja membeli barang - barang yang sifatnya bukan kebutuhan primer (kebutuhan sekarang), tentu saja berbelanja adalah hak bagi semua orang, hanya saja pola konsumtif ini tidak boleh dibiarkan berlarut - larut karena akan mengaburkan nilai dari Lebaran itu sendiri. Pakaian baru seolah menjadi wajib bagi sebagian masyarakat, seperti ingin menunjukkan status sosialnya, sementara yang tidak punya uang bagaimana ? ya mereka gigit jari, mereka seperti tak merasakan manisnya Lebaran. Sekali lagi, tentu saja belanja pakaian baru adalah hak tiap orang, semua bebas membeli apa saja.
Dampak sosial yang kemungkinan akan terjadi ada jurang pemisah antara yang punya uang dan orang yang pas - pasan penghasilannya. Besar kemungkinan orang yang pas - pasan tadi bisa jadi minder dan membatalkan niatnya untuk datang bersilaturahmi ke tempat orang yang mereka anggap status sosialnya lebih tinggi. Bukankah hal ini menyimpang dari Nilai Lebaran itu sendiri ? seharusnya moment lebaran ini menjadi perekat persatuan semua umat, baik yang muslim dan non-muslim, bukan menjadi pemisah hanya karena pakaian baru dan anggaran yang sebagian orang berani mengeluarkannya secara jor - joran. Boleh kita buktikan, di perusahaan - perusahaan leasing kredit, betapa banyak orang mengajukan permohonan kreddit saat menjelang lebaran, entah itu membeli meubel baru ataupun yang lainnya., untuk apa itu ? apalagi kalau bukan gengsi ?
Lebaran adalah saat kita berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan diri sendiri untuk minimal sedikit mengekang rasa gengsi yang telah dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan. Jika kita tak bisa mengekang hal ini barang sedikit saja, berarti ada kesalahan dalam menghayati ibadah di bulan puasa tersebut, karena sukses atau tidaknya kita berpuasa itu dinilai dari kelakuan kita setelahnya. Paling mudah adalah memantau sikap manusia pada saat hari kemenangan tiba yaitu lebaran.
Saat ini kita bisa menikmati kue dan hidangan yang nikmat di rumah sendiri maupun kerabat hasil dari pengeluaran kita yang cukup besar, sementara masih banyak anak yatim yang masih kekurangan makanan. Sudah selayaknya Lebaran ini, kita menyenangkan diri kita sendiri dan menyenangkan orang yang membutuhkan, maka nilai itu tidak akan hilang, HATI KITA AKAN MENJADI SUPER, karena tidak melupakan keseimbangan tatanan sosial, sehingga kita akan mendapatkan kepuasan batin yang sangat tinggi ketimbang kita hanya memberi makan orang yang mampu di rumah kita.

HATI YANG TIDAK SUPER

Kehidupan zaman sekarang yang semakin sulit, penuh tantangan, dan sarat cobaan, membuat diri kita mencari jalan keluar agar mendapatkan sebuah posisi, entah posisidalam pekerjaan, posisi dalam bisnis, maupun posisi dalam politik. Apapun posisinya, tetap saja tujuan akhirnya adalah bagaimana menghasilkan uang yang banyak dalam rangka untuk mensejahterakan diri sendiri maupun keluarga kita. Tentu saja hal ini menjadi hal yang sangat sah untuk dilakukan selama tidak menyalahi aturan dan norma yang berlaku, dan yang paling penting adalah tidak menyalahgunakan posisi yang kita miliki untuk sombong apalagi menyakiti orang lain secara fisik maupun psikis.
Saya selaku penulis mengamati seseorang yang dulunya berjuang sangat keras untuk mencapai posisi yang ia inginkan dalam rangka untuk memperbaiki taraf kehidupannya. Ia adalah seorang pekerja keras yang mempunyai otak yang cemerlang di sebuah Kantor X (nama tempat saya rahasiakan). Namun belakangan ia tak pernah lagi mengajarkan apapun kepada bawahannya, kecuali menyuruh mereka untuk melakukan pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan di kantor, ya . . .para staff Mr.X (nama orang disamarkan) harus mengurusi keperluan rumah tangga. Sikap Mr.X yang terkadang baik dan terkadang jahat itu membuat para staffnya cukup frustasi menghadapi orang ini, karena seringkali sesuatu yang benar menjadi salah, dan yang salah menjadi benar. Mr.X lebih mementingkan teman - temannya di luar kantor dalam hal memberi bantuan keuangan kepada yang membutuhkan, sehingga staffnya yang asli di kantor tak pernah mendapatkan apa - apa selain cerita indah dari orang lain, staffnya hanya bisa bermimpi.
Mr. X menjadi pribadi yang sombong, seperti suatu kali ia berkata kepada seorang wanita muda : "Memilih laki - laki itu yang berkualitas yang punya segalanya" kata Mr.X sambil bergaya. Ironis memang, pada zaman kuliah Mr.X hanffyalah orang biasa yang untuk makan satu hari saja sulit, namun dengan kecerdasan otaknya ia mendapatkan posisi yang bagus dalam pekerjaannya. Namun yang terjadi sekarang adalah hati Mr.X tak lagi disentuh oleh kelembutan, hatinya sudah lupa akan pedihnya masa sulit, hatinya sudah lupa akan lembutnya cinta. Terbukti ia punya banyak simpanan wanita sekarang, simpanan yang ia sembunyikan setengah mati, namun ketahuan juga oleh para staffnya, tapi tetap saja para staff Mr.X tutup mulut karena mereka merasa itu bukan ranah yang harus mereka obrak - abrik. Begitulah hati Mr.X seseorang yang punya segala, namun tak punya HATI YANG SUPER untuk menangkap hikmah kehidupan. Manusia tidak perlu bangga jika ia punya otak yang cemerlang, tapi manusia cukuplah punya HATI YANG SUPER yang bisa melampaui itu semua.