Sabtu, 18 Agustus 2012

NILAI LEBARAN YANG TERLUPAKAN

Lebaran adalah suatu masa tertentu setelah berpuasa 30 hari lamanya di Bulan Suci Ramadhan. Hal ini identik dengan saling memaafkan kepada semua kerabat dan seluruh umat, ada pesan cinta dan damai pada momen ini. Sayangnya dewasa ini, moment penting seperti ini sifatnya menjadi ajang unjuk kemewahan dan ajang unjuk gengsi, fenomena ini dapat dibuktikan betapa sebelum berlebaran nyaris semua orang menyempatkan diri untuk berbelanja membeli barang - barang yang sifatnya bukan kebutuhan primer (kebutuhan sekarang), tentu saja berbelanja adalah hak bagi semua orang, hanya saja pola konsumtif ini tidak boleh dibiarkan berlarut - larut karena akan mengaburkan nilai dari Lebaran itu sendiri. Pakaian baru seolah menjadi wajib bagi sebagian masyarakat, seperti ingin menunjukkan status sosialnya, sementara yang tidak punya uang bagaimana ? ya mereka gigit jari, mereka seperti tak merasakan manisnya Lebaran. Sekali lagi, tentu saja belanja pakaian baru adalah hak tiap orang, semua bebas membeli apa saja.
Dampak sosial yang kemungkinan akan terjadi ada jurang pemisah antara yang punya uang dan orang yang pas - pasan penghasilannya. Besar kemungkinan orang yang pas - pasan tadi bisa jadi minder dan membatalkan niatnya untuk datang bersilaturahmi ke tempat orang yang mereka anggap status sosialnya lebih tinggi. Bukankah hal ini menyimpang dari Nilai Lebaran itu sendiri ? seharusnya moment lebaran ini menjadi perekat persatuan semua umat, baik yang muslim dan non-muslim, bukan menjadi pemisah hanya karena pakaian baru dan anggaran yang sebagian orang berani mengeluarkannya secara jor - joran. Boleh kita buktikan, di perusahaan - perusahaan leasing kredit, betapa banyak orang mengajukan permohonan kreddit saat menjelang lebaran, entah itu membeli meubel baru ataupun yang lainnya., untuk apa itu ? apalagi kalau bukan gengsi ?
Lebaran adalah saat kita berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan diri sendiri untuk minimal sedikit mengekang rasa gengsi yang telah dilatih selama 30 hari di bulan ramadhan. Jika kita tak bisa mengekang hal ini barang sedikit saja, berarti ada kesalahan dalam menghayati ibadah di bulan puasa tersebut, karena sukses atau tidaknya kita berpuasa itu dinilai dari kelakuan kita setelahnya. Paling mudah adalah memantau sikap manusia pada saat hari kemenangan tiba yaitu lebaran.
Saat ini kita bisa menikmati kue dan hidangan yang nikmat di rumah sendiri maupun kerabat hasil dari pengeluaran kita yang cukup besar, sementara masih banyak anak yatim yang masih kekurangan makanan. Sudah selayaknya Lebaran ini, kita menyenangkan diri kita sendiri dan menyenangkan orang yang membutuhkan, maka nilai itu tidak akan hilang, HATI KITA AKAN MENJADI SUPER, karena tidak melupakan keseimbangan tatanan sosial, sehingga kita akan mendapatkan kepuasan batin yang sangat tinggi ketimbang kita hanya memberi makan orang yang mampu di rumah kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar